Headlines News :
Home » , » Predisen PHP, Aldien Pinem : BOEING COMPANY HARUS BERTANGGUNG JAWAB HILANGNYA MAS BOEING 777 200 MH370

Predisen PHP, Aldien Pinem : BOEING COMPANY HARUS BERTANGGUNG JAWAB HILANGNYA MAS BOEING 777 200 MH370

Written By awasionline on Senin, 31 Maret 2014 | 21.52

Predisen PHP, Aldien Pinem
Medan, Awasi Online.
Hilangnya pesawat Malaysia berjenis MAS BOEING 777-2000 dengan nomor penerbangan  MH 370 perjalanan dari Kuala Lumpur (Malaysia) menuju Beijing (RRC) pada hari sabtu lalu tanggal 8 Maret 2014 yang sampai saat ini belum diketahui posisi pesawat tersebut.

Penumpang didalam pesawat tersebut terdiri dari 7 warga negara Indonesia, 152 dan satu bayi warga negera RRC, 38 warga negera Malaysia, 6 warga negara Autralia, 3 warga negara Perancis, 3 dan satu bayi warga AS, 2 warga negra Selandia Baru, 2 warga negara Ukraina, 2 warga negara Kanada, 1 warga NEGARA Rusia, 1 warga negara Itali, 1 warga negara Taiwan, 1 warga Negara Taiwan, 1 warga negara belanda, 5 warga negara India, dan 1 warga negara Austria yang seluruhnya berjumlah 227 penumpang.

Hilangnya pesawat MH37 tersebut telah melibatkan beberapa Negara yang membantu untuk mencari dan juga intrumen intrumen dalam satu Negara seperti, Malaysia maritimen dalam satu Negara seperti Malaysian maritime enforcement agency (MMEA), Badan Kecelakaan perancis (BEA), dan SAR Vietnam dan lain-lain telah berupaya.

Walaupun telah dilibatkan badan internasional yang mencari pesawat tersebut. Akan tetapi pesawat tersebut belum juga ditemukan. Hal ini membuktikan pabrik pesawat Boeing mempunya kelemahan karena tidak mempunyai suatu alat transponder antara pesawat Boeing dengan pabrik pesawat Boeing. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengakuan ahli penerbangan internasional yang menjelaskan : emergency locator tranmittor/ELT (tranmittor lokasi darurat) tidak mengirimkan sinyal. Dari pengakuan ahli penerbangan tersebut membuktikan pabrik pesawat Boeing dinilai gagal menerapkan teknologi modern yang besar dan canggih Boeing Company (NYSE:BA) dan juga tidak memberikan proteksi untuk keberadaan pesawat.
Seharusnya pabrik pesawat Boeing harus memproduksi pesawat dengan mengikuti suatu perangkat teknologi di dalam pesawat aat berbentuk transponder yang mempunyai energy  dari mesin pesawat yang tahan lama seumur pesawat, tahan akan air, tahan akan ledakan dan tahan akan api, dapat memberikan signal secara vertikal antara tansponder yang merupakan perangkat pesawat dengan alat tranponder khusus yang dibuat pabrik Boeing. Dengan tidak adanya alat tersebut, maka dapat diindikasikan pabrik pesawat Boeing gagal menerapkan ilmu teknologi untuk memberikan proteksi keselamatan penumpang diatas pesawat yang diproduksi pabrik pesawat boeing company.

Untuk itu semua negara yang warga negaranya berada di atas pesawat dapat meminta pertanggungjawaban kepada Pemerintah Amerika Serikat dan pabrik pesawat Boeing Company untuk memberikan pertanggungjawaban moral dan juga ganti rugi dari mereka yang korban untuk diberikan kepada ahli warisnya. Jika mediasi yang telah ditempuh antara Pemerintah  yang warga negaranya  menjadi korban dengan Pemerintah Amerika Serikat, maka Pemerintah dari negara yang bersangkutan atau ahli waris dari warga neraga korban tersebut dapat menuntut pertanggung jawaban kepada pemerintah AS dan Boeing Company melalui Peradilan Internasional atau melalui pengadilan di negara dari warga negara yang korban tersebut.

Dalam hal ini saksi ahli yang akan ditampilkan adalah saksi ahli yang diutus oleh PBB dan juga saksi ahli dari Negara adikuasa yang mempunyai alat teknologi dalam penerbangan, termasuk diantaranya Rusia, Perancis dan RRS. (Damanik)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !